Review Buku “The Emotionally Healthy Women”
Penulis : Geri Scazzero
Oleh: Dea Minahtri A.

Berhenti Berbohong
Berbohong merupakan kebiasaan yang dianggap hal wajar dan biasa tanpa sadar hal tersebut tertanam dalam diri kita, dan jarang disadari.
Berbohong dianggap hal wajar dan sepele apalagi di tempat kerja, dikampus, di sekolah, di keluarga, persahabatan bahkan di komunitas Kristen.
Berbohong Demi “Kebaikan” Bahkan Kebohongan Kristen yang “Baik“
Seringkali kita membohongi perasaan diri sendiri dengan berlindung dengan kata saya baik saya kuat, Tetapi tanpa sadar terlalu takut untuk mengakui bahwa sedang dalam keadaan yang kacau.

Banyak perintah-perintah yang tak terucap mendorong untuk berpura-pura baik padahal dalam keadaan yang sedang tidak baik dan memelintirkan kebenaran demi menjaga kedamaian sebagai orang “Kristen yang baik” dan berusaha mengabaikan perasaan yang sebenarnya.
Hal yang keliru jika kebohongan demi kebaikan pada dasarnya kebohongan bukanlah hal yang baik.
Mengapa Harus Berhenti Berbohong?

Ketika berhenti berbohong kamu akan mengerti Kebenaran dan kemerdekaan yang dimaksudkan Tuhan yang dimana hal ini merupakan bagian dari rencana indah Tuhan sejak permulaan supaya manusia hidup dalam kebenaran.
Menjalani kebenaran adalah tingkat di mana kita menjadi merdeka (Yohanes 8:31-32) hidup dalam kebenaran mengalami kemerdekaan batin yang dalam (Mazmur 51:6)
Dampak dari Berbohong

Dampaknya kamu tidak mengalami kemerdekaan dan mengalami kekacauan batin dan kemarahan yang melekat dan akibatnya kita membatasi kemerdekaan yang telah dimenangkan Kristus bagi kita.
Ketika kita berbohong kita tidak lagi berada dalam wilayah Tuhan, melainkan wilayah setan. Yesus menyebutkan si jahat sebagai “bapa segala dusta” (Yohanes 8:44)
Seorang penulis Sandra Wilson pernah berkata “kebenaran memerdekakan kita, tetapi pertama-tama dia membuat kita menderita”
“Sebuah Konflik adalah tanda bahwa ada sesuatu yang salah, tapi konflik juga bisa mengindikasikan bahwa segala sesuatu sedang berjalan dengan benar”
Siapa Orang yang Sering Dibohongi?
- Berbohong pada Diri Sendiri
Orang yang paling banyak dibohongi yaitu diri sendiri, karena keinginan selalu ingin terlihat baik di depan orang lain begitu tertanam hingga terus- menerus mendustai diri sendiri. Mengapa ini bisa terjadi? Karena kita menjalani peraturan yang tidak manusiawi yaitu;
- selalu bersikap baik
- selalu besikap manis
- jangan membuat kesalahan
- jangan tunjukkan perasaan ke orang lain dll
Peraturan yang salah ini begitu tertanam dalam diri tanpa sadar mencekik kemerdekaan dan mendorong untuk terus berbohong.

- Berbohong pada Orang Lain
Ketika seseorang merasa nilainya dirinya terancam, maka akan semakin mengatakan kebohongan. Sering kali mudah untuk berbohong kepada orang lian- menyaring kebenaran- dari pada berisiko mengatakan kebenaran. Tampak lebih mudah memberi kesan bahwa saya orang Kristen yang kuat dan dewasa daripada mengakui kemacetan rohani diri sendiri.

- Berbohong pada Tuhan
Banyak orang yang berbohong pada Tuhan hanya berbagi apa yang mereka pikir, seharusnya apa yang mereka rasakan.

Contoh nabi Elia dan Yunus secara jujur berkata kepada Tuhan bahwa mereka memilih untuk mati (1 Raj 19:1-5, Yun 4:8). Berani jujur dengan perasaan yang mereka rasakan, Tuhan tidak pernah menghakimi mereka ketika berkata jujur, bahkan kekuatan yang mereka terima.
Tuhan memanggil kita bukan untuk memelintir atau menutupi hubungan kita dengan diri-Nya tapi berani jujur datang ke hadirat-Nya dengan semua perasaan.
Berhenti berbohong adalah satu langkah awal. Melalui komitmen berani terhadap kebenaran melangkah ke depan, bergandeng tangan dengan Tuhan, mengalami janji-Nya bahwa kebenaran memerdekakan dan kebangunan besar pun terjadi dalam kehidupanmu.