Perjumpaan Kasih yang Begitu Hangat dan Memulihkan (Jasmine, Bible Camp 2026)
BIBLE CAMP 2026 – DAVID “A Man After GOD’S Own Heart”
Perjumpaan Kasih yang Begitu Hangat dan Memulihkan
Oleh Jasmine Ambun Sintalegawa

Jika diingat kembali, setiap momen kebersamaan terasa begitu hangat. Perjumpaan yang terjadi di antara para pelayan siswa-mahasiswa-alumni melebihi sebuah ‘program kegiatan’ belaka. Suatu masa yang walau sebentar tetapi begitu berkesan mendalam. Setiap mata yang bertemu, setiap jabatan tangan yang saling menguatkan, hingga setiap jiwa yang berpadu di antara peserta kemah Alkitab ini (layaknya Daud & Yonatan). Bahkan, saya percaya ada jiwa yang juga berpadu dengan orang-orang di luar sana walaupun tak bersama dalam Bible Camp tetapi yang beroleh persekutuan bersama orang-orang percaya dari segala masa dan tempat, yang adalah satu tubuh di dalam Kristus, Tuhan kita.
Pertama, saya mengucap syukur kepada Bapa atas segala kesetiaan dan rancangan-Nya yang begitu indah sehingga saya bisa menikmati kasih dan didikan-Nya yang hangat. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan pada Perkantas Palangka Raya dan Perkantas Semarang, serta semua pihak yang mendukung dan menopang Jasmine, Resa, Yossa, Rasito, dan Isa hingga bisa ikut serta. Berikutnya, saya akan membagikan hal-hal berkesan dalam Bible Camp ini. Selamat membaca, merenungkan, dan melangkah dalam perkenanan Tuhan!
Mata yang terbuka
Saya mengalami sebuah tuntunan untuk melihat dengan cara pandang yang lebih luas. Perenungan ini dimulai sebelum BC (Bible Camp), saat BC, hingga seusai BC. Ketika di atas pesawat dan hendak tiba di Semarang, saya diajak melihat begitu banyak rumah-rumah penduduk Semarang. Betapa Allah begitu besar sekaligus personal. Allah yang merancangkan segalanya detail sebab Ia mengenal setiap ciptaan-Nya. Rumah demi rumah, kepala keluarga demi kepala keluarga, bahkan pribadi demi pribadi. Allah juga mengenal Daud, lebih dalam dari semua orang terdekatnya juga diri Daud sendiri. Hal ini saya dapat saat mendengarkan pemaparan Sesi 2 “A Psalm of Majesty”. Daud adalah seorang raja yang mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan melalui mazmur. Mazmur yang ditulis Daud, tanpa diketahuinya, berisikan pemb’ritaan tentang Yesus Kristus Sang Mesias. Ya, sungguh seluas itu jangkauan benang merah yang direnda oleh-Nya melalui mazmur Daud. Mata saya pun terbuka untuk melihat dengan pengharapan dan kedalaman (bukan sepintas lalu). Memandang setiap momen yang terjadi di depan mata sebagai suatu yang begitu berharga, menatap dengan lekat setiap jiwa-jiwa dengan belas kasih sebab menyadari bahwa Allah tidak pernah ‘sembarangan’ mengizinkan/merekakan sebuah perjumpaan & adegan kehidupan. Saya begitu menikmati setiap hari demi hari di Vila Kayu Bandungan ini (emoticon tersenyum). Bahkan saya masih merindukannya sampai pada hari ini…
Tidak menunda-nunda pengakuan dosa
Di sisi lain mata yang terbuka juga menjadi sebuah perenungan akan kesadaran atas dosa-dosa saya.
Mazmur 32:4 “sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela”
Bagian dari mazmur ini ditulis Daud sesudah ia berdosa dengan berzinah dan membunuh. Allah begitu mengasihi kita sehingga Ia tidak dapat membiarkan kita berlarut-larut dalam dosa. Seluruh peserta BC didorong untuk membereskan dosa di hadapan Tuhan. Satu sisi begitu tidak mengenakan ketika sesuatu yang disembunyikan disingkapkan. Tetapi hal itu tak sebanding dengan anugerah; tujuan mulia Allah yakni karya pendamaian relasi dengan-Nya. Tetapi janganlah kita bertobat hanya karena ‘ketahuan’, yakni seperti Daud yang harus dijumpai oleh Nabi Natan dahulu. Akibatnya, Daud mengalami ‘tekanan’ yang membuat sumsumnya menjadi kering (Mzm. 32). Hal yang menjadi bekal bagi saya adalah, dikuatkan untuk segera membawa dosa kepada Allah, kembali kepada Allah, dengan jujur dan mengakui segala keberdosaan, percaya Allah yang setia dan adil sanggup mengampuni dan menolong saya. Demikian, saya rindu adik-adik siswa yang Tuhan percayakan kepada saya dan tim pelayan siswa Palangka Raya, turut menjadi adik-adik yang mau membereskan dosa di hadapan Tuhan, tidak menundanya, tetapi segera datang kepada Allah. Kiranya ini bisa kami bagikan melalui persekutuan siswa ataupun perjumpaan sehari-hari dengan pertolongan Roh Kudus-Nya yang menyertai kita selama-lamanya (setiap hari).
Berkenan di hati Bapa
Perkenanan Allah kepada Daud bukanlah berdasarkan kesempuraan Daud. Kita tahu bahwa Daud adalah orang yang pernah mengambil istri orang lain, membunuh, menjadi seorang ‘penjilat’ pada pemerintahan raja Akhis, hingga mengikuti kesombongannya dengan mengadakan sensus. Alkitab menyajikan semua tokoh dengan jujur dan apa adanya, untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya bukan karena kebaikan manusia, tetapi hanya oleh kemurahan Allah.
Hal yang berbeda dari Daud dibanding dengan Saul adalah relasinya dengan Tuhan. Daud menuliskan Mazmur; tempat ia mencurahkan hatinya kepada Tuhan. Daud mempunyai kedalaman pengenalan akan Allah, sehingga ia mengenal Tuhan sebagai Pribadi yang menerimanya meski dalam keberdosaan untuk kembali kepada-Nya. Daud mengakui dosanya tanpa membela dirinya, ia mencondongkan hatinya kepada Tuhan. Terus kembali kepada Tuhan, itulah yang membuat Daud menghidupi rencana Allah dalam hidupnya. Daud berkenan kepada Allah karena ia hidup dalam rencana Allah; hidup dalam kehendak Allah; hidup mengikuti tuntunan dari Allah. Hal yang bisa saya praktikan adalah diteguhkan untuk memiliki hati yang selalu bertanya “kalau menurut Tuhan bagaimana?” “apa kehendak Tuhan?”, juga mencondongkan hati untuk mengikuti tuntunan Allah melebihi kepentingan pribadi. Sungguh rencana Allah begitu indah dan damai, tidak bisa dijelaskan dengan akal pikiran. Jika mengutip perkataan salah satu “Tidak menggantungkan diri pada kesempuranaan, tetapi kepada kasih setia Tuhan.”
Eksamen Mazmur 139 – Pesan Bapa yang menghangatkan hatiku
Terdapat tiga metode untuk membangun relasi mendalam dengan Allah yang diajarkan dalam BC kali ini, yakni; Openness & Lectio Devina (mendengar pembacaan firman dengan sungguh serta mendalaminya), Eksamen (memperhatikan kehadiran Allah di sepanjang hari-sepanjang hidup), dan Kontemplasi (kesadaran hadir sepenuhnya dan mengalami peristiwa secara menyeluruh, mengalami Allah). Dari ketiga hal ini, yang paling berkesan bagi saya adalah Eksamen pada Mazmur 139, di mana setiap kata “aku” dalam mazmur diubah menjadi nama kita. Seperti berikut:
Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal (Jasmine); Engkau mengetahui, kalau (Jasmine) duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiran (Jasmine) dari jauh.
Engkau memeriksa (Jasmine), kalau (Jasmine) berjalan dan berbaring, segala jalan (Jasmine) Kau maklumi.
Sebab sebelum lidah (Jasmine) mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kau ketahui, ya Tuhan. Dst………
Sungguh, saat saya membacanya hati saya begitu hangat, seperti bagian yang kosong dipenuhi terus-menerus oleh kedamaian. Rasanya seperti surat cinta, tetapi melebihi itu. Sungguh pemulihan batin yang sungguh mendalam. “Faktanya adalah manusia merindukan penciptanya” Ka Yudith. Saya rindu lebih banyak orang lagi yang mengalami kasih Kristus ini. Kasih yang menerima dan memeluk segala kerapuhan diriku. Kasih yang membuat kita berkenan kepada-Nya. Saya rindu membawakan eksamen ini pada kelompok-kelompok KTB dan persekutuan pengurus siswa.
Tuhan bukan pembantu

Fakta ini begitu menampar saya dan mengubahkan konsep doa dalam pengertian saya. Hal ini dipaparkan dalam PA Bersama, di mana kami bisa berdiskusi secara terbuka dalam forum. Begitu banyak pertukaran pikiran yang terjadi, tetapi yang saya tidak pahami adalah konsep jika itu terjadi bukanlah ‘jawaban doa’ tetapi kehendak Allah. Kemudian di hari terakhir saya kembali menanyakan ini kepada Ka Yudit dalam kelompok kecil khusus peserta dari Palangka Raya. Dari diskusi tersebut mempertegas bahwa, sesungguhnya jika suatu hal terjadi, itu bukan karena kita, bukan karena jawaban doa. Tetapi karena itu kehendak Tuhan. Hal ini begitu membongkar pemahaman saya yang keliru, yang berakar pada kesombongan. Sesungguhnya, jika kita berdoa itu adalah proses transformasi kehendak sehingga selaras dengan kehendak-Nya. Jika kita berdoa meminta kekuatan, maka kita jadi mengetahui bahwa kekuatan kita itu dari Tuhan. Tuhanlah penguasa kehidupan. Jadi bukan “karena aku” berdoa maka berhasil. Tetapi karena kehendak Allah saja. Saya terus belajar memahaminya…, mengubah cara saya berdoa. Jika saya digerakkan untuk berdoa sesuatu… maka sebuah ucapan syukur untuk mengetahui bahwa itulah kemungkinan kehendak Tuhan yang akan terjadi. Sebab Tuhanlah yang menumbuhkan kerinduan untuk mendoakan sesuatu bukan? Semakin selaras dengan pertanyaan “terus siapa Tuhannya, kita atau Tuhan?”. Saya melihat teladan dari kaka-kaka rohani berdoa dengan isi yang didominasi dengan ucapan syukur bukan permintaan. Jika isinya tentang meminta, isi doa itu pun selaras dengan firman Tuhan, selaras dengan kehendak Tuhan. Seperti dalam firman-Nya; Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya (Yoh. 15:7 TB).
Pemulihan Identitas
Hal yang bisa menjaga agar kita berkenan di hati Bapa adalah karya Roh Kudus mengenai identitas kita. Saat saya menyadari bahwa saya adalah anak perempuan Bapa, hal ini menjaga saya untuk tidak berbuat dosa. Untuk menjaga keputusan saya agar tidak menyimpang kepada dosa. Kesadaran Daud bahwa dia adalah anak Bapa, menolongnya untuk berani melawan Goliath walaupun banyak orang yang meremehkannya atau tidak memvalidasinya. Identitas sebagai anak perempuan Bapa menolong Jasmine semakin menjadi pribadi yang sejati di dalam Kristus.
Proposal dari Tuhan


“Proposal” yang Tuhan tawarkan tidak selalu bermaksud untuk disetujui, tetapi untuk menguji hati kita.
Digambarkan dalam situasi Daud yang 2x bisa saja membunuh Saul. Bahkan didorong juga oleh prajurit-prajurit Daud. Tetapi Daud dianugerahkan kesabaran dan belas kasihan. “Integritas kepada Allah lebih penting daripada percepatan janji Allah” Bang Alex. Hal ini mendorong saya memeriksa segala keputusan saya di belakang hari-hari yang lalu. Sungguh saya sangat membutuhkan tuntunan Roh Kudus untuk membedakan mana yang benar dari yang abu-abu.
Ya, hal ini sangat jelas tervisualisasikan saat kami menempuh perjalanan ke Gedong Songo hehe. Saat itu kami melalui jalan yang menanjak-menurun dan penuh kabut, begitu abu-abu…. Kami menyadari bahwa sebagai domba jarak pandang kita terbatas. Hal yang harus kita lakukan adalah mengenali suara Gembala kita yakni Bapa kita Yesus Kristus. Perjalanan yang misterius dipenuhi kabut dan hawa dingin pun dapat dijalani dengan riang karena ada penyertaan terang Allah di antara kami. Sungguh bersyukur atas kebersamaan dengan rekan-rekan Perkantas Semarang. Terima kasih dari lubuk hati yang terdalam buat teman-teman semua, matur nuwun!
Kita adalah stewardship (pengelola)
Dalam PA kelompok, muncul pertanyaan “jika mendapat uang 1 M apa yang akan kamu lakukan?”. Belajar dari kisah Daud yang ingin membangun Bait Suci (1 Tawarikh 29:1-19), ia menyampaikan rencana ini kepada segenap Jemaah. Daud menyampaikan kondisi yang ada kepada Jemaah bahwa yang akan membangun Bait Suci adalah Salomo, anaknya, dan membutuhkan bantuan baik bahan-bahan maupun tenaga. Daud mempersembahkan hartanya untuk membangun Bait Suci itu. Ia juga mengajak Jemaah untuk rela memberi harta mereka untuk pembangunan. Jemaah pun rela memberi persembahan kepada TUHAN dan bersukacita juga demikian raja Daud.
“Ya TUHAN, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang kami sediakan ini untuk mendirikan bagi-Mu rumah bagi nama-Mu yang kudus adalah dari tangan-Mu sendiri dan punya-Mulah segala-galanya” (1 Tawarikh 29:16). Sesungguhnya segala yang kita punya sekarang bukanlah milik kita, tetapi adalah bagian yang harus kita kelola; kita adalah pengelola (stewardship). “Ya Tuhan Allah, yang disembah oleh Abraham, Ishak dan Yakub, leluhur kami, kiranya Engkau menjaga supaya umat-Mu tetap mencintai Engkau seperti sekarang ini dan tolonglah supaya mereka selamanya setia kepada-Mu.” (1 Tawarikh 29:18), kecenderungan hati ini harus terus dijaga sebab sikap hati ini penting dan berkenan di hati Allah. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:21).
“Diam dan ketahuilah”

Saya diingatkan dan disadarkan bahwa walaupun dalam suasana Bible Camp, saya tetap harus mengambil waktu-waktu ‘duduk diam’ secara pribadi. Puji Tuhan, Roh Kudus menuntun saya melakukannya dan saya begitu terhibur oleh firman-firman-Nya melalui Bible Reading (BR) saya di kitab Mazmur (bukan kebetulan sesuai dengan BC) dan kitab Yehezkiel. Bang Alex, pemateri utama, juga menegaskan untuk menjadikan “diam” itu yang pertama, baru kemudian “ketahuilah”. Jangan sampai kesibukan pelayanan dan tugas-pendidikan-pekerjaan membuat kita tidak membangun relasi dengan Allah. Jangan sampai kita pada akhirnya mengandalkan kekuatan diri sendiri tanpa kita sadari dan merasa semuanya “karena saya”. Hal ini bisa juga menjadi boomerang, ketika kita menyandarkan segala sesuatu pada diri sendiri. Ketika kita atau pelayanan kita gagal maka juga “karena saya/gara-gara aku”. Hati-hati dengan cara-cara si jahat yang menggeser fokus dan motivasi kita. Maka dari itu, di hari ke-5 (hari terakhir) perubahan yang Tuhan undang untuk aku hidupi setelah camp ini adalah: Motivasi & fokus hidup kepada Kristus.
Demikian sharing apa yang saya dapatkan, kiranya juga menguatkan teman-teman, abang, kaka semua. Terima kasih sudah membaca dan merenungkan, Tuhan Yesus, Allah yang setia memberkati kita. Amin.